Showing posts with label arkeologi. Show all posts
Showing posts with label arkeologi. Show all posts

5 Dinosaurus-Dinosaurus Berbulu yang Akan Muncul di Jurassic Park 4

Pernahkah anda menonton Film Jurassic Park? Film tersebut bercerita tentang gambaran binatang purba yang dihidupkan kembali pada zaman modern. Film ini dimulai pembuatannya pada 20 tahun silam dengan robot-robot dinosaurus asli sehingga film tersebut terlihat hidup dan binatang terlihat seperti asli.

Ternyata Film Jurassic Park 4 akan segera dirilis pada 2014, dan kalau di versi-versi sebelumnya kita hanya melihat dinosaurus biasa , maka di Jurassic Park 4 ini akan ditampilkan beberapa dinosaurus berbulu, diantaranya ialah :

1.    
Velociraptor



Para ilmuwan menduga salah satu peran antagonis utama dalam film Jurassic Park adalah Velocariptor yang memiliki bulu untuk sementara waktu. Dugaan mereka ini dikonfirmasi ke publik pada 2007 lalu, ketika menemukan fosil hewan ini di Mongolia.

2.    Eosinopteryx


Dinosaurus kecil ini memiliki panjang tubuh 30 centimeter dan hidup pada 140 juta tahun yang lalu. meskipun bisa terbang, tetapi Eosinopteryx memiliki sayap kecil seperti burung-burung pada umumnya. Sehingga, awalnya ilmuwan sempat memperkirakan burung berevolusi dari dinosaurus pada periode Cretaceous akhir.

3.    Yutyrannus



Ini bukan hanya dinosaurus kecil yang memiliki bulu pada beberapa bagian tubuhnya, tetapi anggota keluarga tyrannosauroid yang mencakup T-Rex ini seluruh penampilannya juga dipenuhi bulu. Memiliki panjang sembilan meter dan berat yang mencapai hingga 1.400 kilogram, membuat para ilmuwan mengira bulu pada tubuhnya berfungsi untuk mengatur suhu dan menarik lawan jenis.

4.    Similicaudipteryx



Fosil dinosaurus ini pertama kali ditemukan pada 2007. Selain itu, pada 2010 lalu dua remaja juga menemukan fosil ini kembali. Kedua fosil tersebut menunjukkan bukti yang jelas tentang perkembangan bulu pada Similicaudipteryx.

5.    Ornithonimus 



Dinosaurus ini hidup di Amerika Utara. Menariknya, baik Ornithomimus muda maupun dewasa mereka memiliki bulu. Pada 2012 lalu, struktur sayap baru dinosaurus ini berhasil diidentifikasi oleh para ilmuwan. Mereka menunjukkan bahwa bulu pada hewan purba ini berfungsi untuk menarik perhatian lawan jenisnya.


Acrotholus Audeti, Dinosaurus Terkecil Berukuran Seperti Anjing Modern




OTTAWA - Penemuan fosil dinosaurus baru dengan tulang tebal dan diyakini berukuran sebesar anjing modern mengungkap keragaman hewan purba yang ada di masa lampau. Temuan terbaru ini menunjukkan bahwa Bumi pada ratusan juta tahun lalu pernah dihuni oleh berbagai ukuran dinosaurus.

Dilansir Abc Science), studi baru mengungkapkan, penemuan dinosaurus seukuran anjing besar memberikan gambaran tentang Bumi di zaman prasejarah. Temuan ini sekaligus membantah bahwa Bumi di masa lampau hanya dihuni dinosaurus raksasa.

Peneliti meyakini bahwa planet ini pada kenyataannya dihuni oleh banyak jenis dinosaurus kecil. Peneliti melaporkan studi mereka pada jurnal Nature Communications.

"Ini akan menjadi dunia yang penuh dengan keanekaragaman kehidupan dinosaurus, baik besar maupun kecil," kata peneliti David Evans dari departemen sejarah alam Royal Ontario Museum.

Seperti diketahui, pada era modern ini, Bumi didominasi oleh hewan bertubuh kecil, seperti mamalia serta reptil. Akan tetapi, fosil dinosaurus telah memberi gambaran bahwa hewan purba di era Mesozoikum (sekira 250 - 65 juta tahun lalu) memiliki ukuran raksasa.

Peneliti telah menemukan fosil dinosaurus yang ditemukan di Milk River Formation, sebelah selatan Alberta, Kanada. Sisa-sisa tulang ini menunjukkan dinosaurus pemakan tumbuhan yang bertubuh kecil. Hewan purba ini diyakini pernah hidup 85 juta tahun lalu.

Dinosaurus herbivora tersebut memiliki panjang 1,8 meter yang diukur dari hidung sampai ekor serta diduga memiliki berat 40 kilogram. Hewan ini memiliki tonjolan tulang yang kuat sepanjang 10 centimeter di bagian atas tengkorak kepalanya.

Dinosaurus ini diberi nama Acrotholus audeti, yang merupakan spesies tertua yang pernah hidup di Amerika Utara. Peneliti meyakini bahwa terdapat dinosaurus bertubuh kecil lainnya yang belum ditemukan.


sumber

Katakomba Pemakaman Terbesar di Bawah Indahnya Kota Paris




Katakomba Paris (bahasa Perancis: Catacombes de Paris) adalah pemakaman bawah tanah yang berlokasi tepat di bawah kota Paris, Perancis. Terletak di sebelah selatan gerbang kota (sekarang Place Denfert-Rochereau), katakomba ini menampung kira-kira enam juta jenazah, lebih banyak jika dibandingkan dengan jumlah penduduk yang berdiam di atasnya. Struktur katakomba ini terdiri dari gua-gua dan terowongan bawah tanah yang merupakan sisa-sisa dari pertambangan batu Paris. Dibuka pada akhir abad ke-18, katakomba ini telah menjadi daya tarik wisata pada awal abad ke-19, dan telah dibuka secara teratur untuk umum sejak tahun 1874. Setelah adanya insidenvandalisme, katakomba ini pernah ditutup untuk umum pada bulan September 2009 dan dibuka kembali tanggal 19 Desember pada tahun yang sama.

Nama resmi untuk katakomba ini adalah l'Ossuaire Municipal. Lokasinya yang berada tepat di bawah kota menyebabkan dilarangnya pembangunan gedung-gedung tinggi di Paris.

Sejarah

Sejak zaman Romawi, warga Paris biasanya memakamkan karib kerabatnya yang meninggal dunia di kawasan pinggiran kota, namun kebiasaan ini berubah setelah masuknya agama Kristen. Praktek Kristiani menganjurkan untuk menguburkan jenazah di bawah tanah suci gereja. Pada abad ke-10, tanah pemakaman di Paris semakin sempit akibat kota yang semakin padat. Pada abad ke-12, masalah ini diatasi dengan dibukanya ruang bawah tanah di bawah kota untuk menampung jenazah warga Paris. Namun, lambat laun pemakaman bawah tanah ini menjadi semakin penuh sesak dan menimbulkan masalah bagi sanitasi warga kota yang sumber air utamanya adalah air sumur. Pada abad ke-19, penggunaan katakomba sebagai tempat pemakaman dilarang setelah dibangunnya tiga tempat pemakaman umum di luar kawasan pusat kota.

Jenazah korban kerusuhan Place de Grève dan Rue Meslée dimakamkan di katakomba ini pada tanggal 28 dan 29 Agustus 1788. Jenazah Philibert Aspairt hilang di katakomba pada tahun 1793 dan ditemukan kembali 11 tahun kemudian. Dinding katakomba ini dipenuhi oleh grafiti pada abad ke-18. Victor Hugo menggunakan terowongan katakomba ini sebagai salah satu latar tempat dalam novelnya, Les Misérables. Pada tahun 1871, para komunar membunuh sekelompok monarkis di dalam salah satu ruangan katakomba. Selama Perang Dunia II, warga Paris memanfaatkan terowongan katakomba untuk bersembunyi. Juga selama periode ini, tentara Jerman mendirikan sebuah bunker bawah tanah di katakomba, tepat di bawah Lycée Montaigne.

Bahasa Yang Pernah di Gunakan Manusia 13.000 tahun S.M




Peneliti mengklaim bahwa mereka bisa mengidentifikasi bahasa kuno yang pernah digunakan manusia pada 15 ribu tahun lalu. Penelitian ini mengungkap beberapa kelompok bahasa yang berbeda-beda.

Dilansir Latimes, Rabu (8/5/2013), bahasa kuno yang digambarkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences mengungkap beberapa bahasa seperti Indo-European. Bahasa ini kabarnya pernah digunakan sekira 3 miliar pembicara dan terdiri dari bahasa Spanyol dan Hindi.

Para peneliti pertama kali harus mencari bahasa yang asalnya sama, di mana kata-kata berasal dari sumber asli serta memiliki makna dan pengucapan yang serupa. Misalnya kata "fart" dalam bahasa Inggris yang berarti 'kentut', berasal dari garis keturunan linguistik.

Garis keturunan ini berasal dari Jerman, "furzen", "frata" di Old Islandia, "perdet" dalam bahasa Rusia serta "pardate" dalam bahasa Sansekerta kuno. Akan tetapi, merekonstruksi kata-kata ini merupakan hal yang tidak mudah bagi peneliti, di mana sebagian besar kata berkembang terlalu cepat.

Untungnya, peneliti masih bisa menemukan beberapa kata-kata seperti angka, kata ganti, dan kata keterangan khusus yang biasa digunakan. Kata-kata tersebut diyakini tidak akan berubah hingga 10 ribu sampai 20 ribu tahun.

Peneliti juga menemukan beberapa kata seperti "this" (ini), "I" (Aku), "give" (memberi), "mother" (ibu) dan kata lainnya yang memiliki kemiripan dengan tujuh bahasa di seluruh Eurasia. Kata ini dilacak kembali ke waktu 15 ribu tahun lalu, tepat pada saat gletser akan mencair.

"Hasil penelitian kami menunjukkan kesetiaan yang luar biasa dalam transmisi beberapa kata dan memebrikan pembenaran teoritis untuk mencari fitur bahasa. Bahasa ini dipertahankan di seluruh rentang luas waktu dan geografi," tutur peneliti.

Penemuan Batu Kuno Gabriel Stone





YERUSALEM - Sebuah batu kuno dengan tulisan bahasa Ibrani dipamerkan di Yerusalem. Dan kabarnya, batu kuno yang dinamakan Gabriel Stone ini mengungkap prediksi adanya keberadaan Mesias (juru selamat) sebelum Yesus.

Dilansir Dailymail, Jumat (3/5/2013), dinamakan Gabriel Stone (Batu Gabriel), batu tersebut ditemukan 13 tahun lalu di Jordania. Batu tersebut menuai kontroversi pada 2008, ketika ilmuwan Israel berteori bahwa prasasti ini merevolusi pemahaman Kristen awal. 

Ilmuwan yang bernama Israel Knohl ini mengklaim bahwa maksud dari tulisan di batu tersebut menunjukkan bahwa Mesias lebih dahulu hadir sebelum munculnya Yesus. Penafsirannya menyebabkan "badai" di dunia studi Alkitab, di mana para cendekiawan mengadakan sebuah konferensi internasional untuk membahas teks bacaan pada batu kuno tersebut.

Terkini, website Telegraph melaporkan bahwa Israel Khohl, yang merupakan sarjana Alkitab di Hebrew University di Yerusalem mengatakan, fragmen Batu Gabriel ini masih bisa ditemukan. Ini menandakan tidak hanya satu artefak batu yang ditemukan, tetapi arkeolog dapat menemukan Batu Gabriel berikutnya.

Batu Gabriel ini membawa kembali arkeolog pada periode Dead Sea Scrolls dan Second Temple. Khohl mengungkapkan penafsirannya yang mungkin terlupakan oleh akademisi lain, di mana Allah menyerukan kepada "anak" untuk "kembali ke kehidupan". 

"Ini sangat mungkin bahwa teks ditulis pada dua batu, terutama karena bahasa termasuk referensi untuk Perjanjian baru atau Konvensi," kata Khohl. Lebih lanjut ia menjelaskan, ada pesan yang dibuat dalam bentuk tablet untuk meniru ide dari dua tablet berisi Sepuluh Perintah Allah yang diberikan kepada Musa di Gunung Sinai.

Ia tidak yakin bahwa batu kuno yang telah ditemukan memiliki komposisi yang penuh. Sehingga, ada bagian atau potongan Batu Gabriel lain yang belum ditemukan.

Ia berharap di masa depan, arkeolog bisa menggunakan teknologi canggih di bidang fotografi dengan tampilan definisi tinggi (HD) yang bisa mengungkap asal-usul maupun pesan dari batu kuno tersebut. "Bila ada yang bisa memikirkan teknologi baru atau ide untuk menambah informasi bagi kami, silakan datang dan memberitahu kami. Ini akan menjadi kontribusi besar untuk mempelajari Yudaisme dan kekristenan," jelasnya.


sumber : okezone

Manusia Purba Flores Memiliki Otak yang Besar



Indonesia merupakan tempat ditemukannya fosil-fosil beberapa manusia purba. Diantaranya adalah manusia purba dari solo (Homo Soloensis), manusia purba mojokerta (homo mojokertensis) dan manusia purba flores (hoobit). Namun ternyata manusia purba flores memiliki otak yang sangat besar.

Hoobit atau manusia purba Homo Floresiensis adalah manusia purba yang tinggal di kepulauan Flores 18 ribu tahun lalu dengan tubuhnya yang pendek. tetapi, ternyata mereka memiliki volume otak yang lebih besar dari perkiraan sebelumnya. Ilmuwan mengatakan, temuan ini menambahkan bukti baru bahwa hobbit merupakan spesies manusia purba yang unik.

Fosil berusia 18 ribu tahun dari jenis Homo Floresiensis ini pertama kali ditemukan di kepulauan Flores, Indonesia pada 2003. Ketika ditemukan, hobbit ini memiliki tinggi sekira 3 kaki.Ilmuwan menunjukkan bahwa hobbit merupakan cabang unik dari garis keturunan manusia Homo. Kemungkinan hobbit merupakan keturunan Homo erectus, yang merupakan nenek moyang awal manusia modern. 

Akan tetapi, beberapa peneliti lain berpendapat kalau hobbit ini merupakan spesies lain dari manusia yang memiliki kekerabatan erat dengan manusia modern. Ini terlihat pada bagian microcephaly, yang merupakan kondisi di mana hobbit memiliki kepala kecil abnormal, tubuh kecil dan beberapa keterbelakangan mental.

Dengan menggunakan pemindaian (scan) beresolusi tinggi, ilmuan berhasil mengetahui bahwa otak hobit memiliki volume yang lebih besar, 426 centimeter kubik. Ini lebih besar dari penemuan sebelumnya dengan volume 400 centimeter kubik. Sebagi pembanding manusia modern memiliki volume otak 1.300 centimeter kubik. 

"Penelitian ini tidak membuktikan siapa spesies leluhur yang sebenarnya untuk Homo Floresiensis. Ini menghapus perhatian yang paling penting terkait model, yang menganggap Homo erectus merupakan spesies leluhur," jelas Yousuke Kaifu, peneliti dari National Museum of Nature and Science, Jepang.

Peneliti Temukan Ratusan Telur-Telur Dinosaurus di Spanyol


Para ilmuwan kembali menemukan fosil telur yang diduga milik dinosaurus dengan jumlah mencapai ratusan di timur laut Spanyol. Empat telur di antaranya merupakan jenis baru yang belum pernah ditemukan di kawasan tersebut.
Para peneliti memperkirakan telur ini merupakan telur yang ditinggalkan Sauropods (salah satu jenis dinosaurus yang berleher panjang) jutaan tahun yang lalu. Lokasi tepatnya penemuan telur ini berada di situs Coll de Nargó, provinsi Lleida, Spanyol. Tempat ini dulunya merupakan daerah rawa selama periode Cretaceous Akhir.
"Kulit telur, cangkang, dan sarang ditemukan berlimpah dan semuanya itu milik dinosaurus, khususnya Sauropods," ujar pemimpin studi, Albert García Sellés dari Miquel Crusafont Catalan Palaeontology Institute.
Sepanjang sejarah di wilayah tersebut hanya satu jenis telur dinosaurus yang telah didokumentasikan yaitu Megaloolithus siruguei.
Namun kali ini, Sellés bersama timnya menemukan empat bukti jenis telur lainnya antara lain Cairanoolithus roussetensis, Megaloolithus aureliensis, Megaloolithus siruguei,dan Megaloolithus baghensis.
Ilsutrasi masa prasejarah (thinkstockphoto)
bumi,dinosaurus,asteroid,meteor
Megaloolithus merupakan jenis telur yang diklaim milik sauropoda, yakni salah satu jenis dinosaurus berleher panjang terbesar yang pernah ada di Bumi. Menurut para peneliti, kawasan Coll de Nargó area merupakan wilayah penting tempat dinosaurus bersarang di Eropa.
Penelitian yang mereka lakukan menunjukkan beberapa dinosaurus dari era Campanian Akhir, yakni sekitar 71 juta tahun lalu hingga Maastrichtian Akhir, yakni sekitar 67 juta tahun yang lalu.
"Kami belum pernah menemukan sarang yang begitu banyak di satu wilayah. Disamping itu, keberadaan berbagai oospecies (telur spesies) di tingkatan yang sama menunjukkan bahwa beragam jenis dinosaurus berbagi tempat di wilayah yang sama," kata Selles.
Berkat ditemukannya oospecies, maka ilmuwan dapat menentukan usia situs di Coll de Nargó yakni antara 67 hingga 71 juta tahun. "Ini telah memberikan kejelasan bahwa tipe telur yang berbeda berada dalam interval waktu yang sangat spesifik," jelas Selles.

Ilmuwan Ungkapkan Burung Purba Ternyata Memiliki Empat Sayap

detail berita



Berbicara tentang burung purba pasti kita beranggapan bahwa burung purba sama seperti burung seperti sekarang ini yang memiliki dua sayap. Namun pada kenyataannya baru-baru ini Iluwan China berhasil mengungkapkan ternyata burung purba memiliki empat sayap.

Pendapat ini didasarkan pada penemuan ilmuwan china tersebut yang menemukan kerangka burung purba. Sekaligus penemuan ini membuktikan bahwa susunan anatomi burung berevolusi.

Paleontolog (ilmuwan fosil) dari Institute of Geology Xing Xu, mengklaim telah menemukan sisa-sisa fosil beberapa specimen burung yang terbang di langit Cina sekira 100 juta tahun yang lalu. Burung jenis ini diperkirakan memiliki bulu pada kaki belakangnya.

Fosil spesimen ini diketahui memiliki bulu pada kaki belakangnya sepanjang lebih dari 50 milimeter (sekira 2 inci), sedangkan pada anak-anaknya lebih pendek yaitu 30 milimeter (sekira 1,2 inci).

“Sungguh menakjubkan bahwa burung purba begitu banyak memiliki bulu kaki yang besar. Temuan ini penting untuk mengetahui evolusi bulu,” komentar Xing Xu terkait penemuannya itu, seperti dikutipsoftpedia.

Namun, untuk saat ini para peneliti belum dapat memastikan, apakah burung-burung ini memanfaatkan susunan bulu-bulu di sayap belakang dekat kakinya untuk membantu gerakan saat terbang.

Hingga saat ini belum ada ketentuan mengenai apakah semua burung purba memiliki bulu seperti itu di kaki bagian belakang sebagaimana yang ditemukan pada fosil ini.

Xing Xu juga meyakini alasan mengapa saat ini burung hanya memiliki dua sayap saja karena mereka lebih banyak menghabiskan waktu di darat.