Sistem Penamaan Makhluk Hidup Binomial Nomenklatur dan Penemunya


Setiap makhluk hidup didunia ini memiliki berbagai nama yang diberikan oleh manusia. Namun karena keberagaman bahasa, maka nama makhluk hidup berbeda disetiap bahasa. Misalkan, dalam bahasa indonesia macan namun dalam bahasa inggris disebut tiger. Maka karena perbedaan inilah dibuat sistem binomial nomenclatur (sistem nama ganda) sehingga mudah dipahami seluruh ahli taksonomi didunia.

Penemu Sistem Binomial Nomenclatur



Carolus Linnaeus

Sistem penamaan ganda (binomial nomenclatur) ini ada dalam  buku Pinax Theatri Botanici (1632) karya Caspar Bauhin. Dalam buku ini diterapkan sistem nama ganda bagi tumbuhan. Tetapi, Linnaeus lah yang dianggap sebagai pencipta sistem penamaan ganda ini (Binomial Nomenclatur). Hal ini mungkin saja dikarenakan Carolus Linnaeus yang secara konsisten menerapkan sistem penamaan tersebut dalam bukunya Species Plantarum (1753).

Pengelompokan dalam Sistem Binomial Nomenclatur





Sistem Ini mengelompokkan jenis-jenis tertentu dalam satu kelompok besar yang disebut marga. Marga yang memiliki kemiripan yang tinggi ditempatkan dalam kelompok yang lebih besar yaitu famili (suku). Famili yang memiliki tingkat kemiripan yang lebih tinggi ditempatkan kedalam satu ordo (bangsa). Ordo yang memiliki tingkat kemiripan yang lebih tinggi ditempatkan kedalam satu kingdom (kerajaan).

Masing-masing kingdom atau kerajaan makhluk hidup dibagi-bagi menjadi divisio atau divisi untuk tumbuhan dan phylum untuk hewan. Setiap filum  atau divisi dibagi menjadi kelompok yang lebih kecil dan demikian seterusnya.

Setiap kelompok yang terbentuk dalam klasifikasi makhluk hidup disebut takson. Ilmu yang mempelajari takson disebut dengan taksonomi. Taksonomi berasal dari kata taxon yang berarti kelompok dan nomos yang berarti hukum. atau disebut juga sistematika (susunan dalam suatu sistem).

Berdasarkan uraian tersebut dapat ditafsirkan bahwa para ilmuan menggolongkan makhluk hidup berdasarkan banyaknya persamaan yang dimiliki baik morfologi, fisiologi, maupun anatominya. Maka dapat diakatakan semakin banyak persamaannya maka semakin dekat pula hubungan kekerabatannya serta sebaliknya Contohnya spesies kucing (Felis domestica) dan spesies harimau (Felis tigris).

Dengan begitu maka terbentuklah ciri klasifikasi atau tingkatan takson. Semakin tinggi tingkatan takson maka semakin sedikit persamaan yang ada tetapi jumlah makhluk hidupnya semakin banyak dan semakin rendah kedudukan suatu takson maka semakin banyak persamaannya tetapi semakin sedikit jumlah makhluk hidupnya.